Dua gol diciptakan masing-masing kapten, lewat proses sama yakni berdiri bebas tanpa kawalan untuk menanduk bola di dalam kotak penalti.
Menggunakan formasi 4-3-3 semenjak awal, Liverpool kerepotan menangani Chelsea yang tampil sedikit lebih santai ketimbang sebelum resmi meraih trofi. Pressing di tengah mengandalkan Gerrard dan Henderson tidak mampu diteruskan ketika harus lakukan transisi menyerang.
Hanya 49 kali berhasil masuk ke final third lawan, jumlah tersebut masih kalah dari apa yang dicatatkan oleh The Blues dimana 10 kali lebih banyak dari Lambert dan kawan-kawan. Akibatnya selain hasil imbang kesempatan bermain di kasta tertinggi sepak bola Eropa semakin sulit jadi kenyataan.






bermanfaat bgt gan postnya, update trs ya
ReplyDeletekasihan yah liverpool, selalu terpuruk prestasinya
ReplyDeleteLiverpool cupu...
ReplyDeleteseharusnya bursa transfer harus bisa dimanfaatkan dengan baik
jangann pelit2 dong...